Sabtu, 07 April 2012

PENDAHULUAN KTI BENDUNGAN ASI

BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Masa nifas (postpartum/puerperium) berasal dari bahasa latin “puer” yang berarti anak, parous artinya melahirkan. Masa nifas dapat diartikan sebagai masa pulih kembali, mulai dari persalinan selesai sampai alat-alat kandungan kembali seperti prahamil. Lama pada masa ini berkisar 6-8 minggu (Sujiyatini, dkk, 2010).
Peranan bidan dalam memberikan asuhan masa nifas adalah memberikan asuhan yang konsisten, ramah dan memberikan dukungan pada setiap ibu dalam proses penyembuhan dari stress fisik akibat persalinan dan meningkatkan kepercayaan diri ibu dalam merawat bayinya (Ambarwati, 2008).
Salah satu langkah mengimplementasikan peranan bidan tersebut, pemerintah mencanangkan program gerakan sayang ibu yaitu suatu gerakan yang dilaksanakan dalam upaya meningkatkan kwalitas hidup perempuan melalui berbagai kegiatan yang berdampak terhadap upaya penurunan angka kematian ibu (AKI) karena hamil, melahirkan, dan nifas (Sujiyatini, dkk, 2010).
Program lain sebagai wujud implementasi peranan bidan tersebut, bidan juga berkewajiban untuk menjalankan program ASI eksklusif pada setiap ibu nifas sebagai pemenuhan kebutuhan masa laktasi yang sangat diperlukan dalam masa nifas karena mempunyai tujuan untuk meningkatkan pemberian ASI eksklusif agar anak mendapatkan kekebalan tubuh secara alami. Namun kebanyakannya sekitar 8% saja ibu-ibu yang memberikan ASI eksklusif kepada bayinya umur 6 bulan dan 4% bayi disusui ibunya dalam waktu satu jam pertama kelahiran. Padahal 21.000 kematian bayi baru lahir dibawah usia 28 hari di Indonesia dapat dicegah melalui pemberian ASI. Sedangkan pada kenyataannya masih banyak ibu kurang mengerti masa laktasi ini, sebagai bidan harus berupaya menyarankan ibu untuk memberikan bayinya ASI eksklusif sedini mungkin ( Sujiyatini, dkk, 2010).
ASI eksklusif adalah pemberian ASI tanpa tambahan makanan atau minuman pendamping apapun (termasuk susu formula, air jeruk, madu, air gula) selama 6 bulan dari bayi lahir. ASI merupakan makanan bergizi yang tidak memerlukan tambahan komposisi, disamping itu ASI mudah dicerna oleh bayi dan langsung terserap. Diperkirakan 80% dari jumlah yang cukup untuk keperluan bayinya secara penuh tanpa makanan tambahan. Selama enam bulan pertama. Bahkan ibu yang gizinya kurang baikpun sering dapat menghasilkan ASI cukup tanpa makanan tambahan selama tiga bulan pertama. Walaupun pada kenyataanya kebanyakan dari ibu selalu mempunyai hambatan dalam masalah proses laktasi, sebagai bidan harus berupaya untuk memberikan solusi, bahwa ASI tidak selalu diberikan kepada bayi harus langsung dari payudara ibu. Ternyata, ASI yang ditampung dari payudara ibu dan ditunda pemberiannya kepada bayi melalui pemerahan dan penyimpanan yang benar masih sama kualitasnya dengan ASI yang langsung dari payudara ibunya (Sulistyowati, 2009).
Statis ASI terjadi jika ASI tidak dikeluarkan dengan efisien dari payudara. Hal ini dapat terjadi bila payudara terbendung segera setelah melahirkan atau setiap saat bila bayi tidak cukup meghisap ASI, yang dihasilkan dari sebagian atau seluruh payudara. Penyebabnya yaitu kenyutan bayi yang buruk pada payudara, penghisapan yang tidak efektif, pembatasan frekuensi atau durasi menyususi, dan sumbatan pada saluran ASI. Situasi lain yang merupakan predisposisi terhadap statis ASI, termasuk suplai ASI yang sangat berlebihan, atau menyusui untuk bayi kembar atau lebih (Bahiyatun, 2009).
Kondisi ini dapat berkembang menjadi bendungan ASI, payudara terisi sangat penuh dengan ASI, aliran vena dan limfatik tersumbat, aliran susu menjadi terhambat, dan tekanan pada saluran ASI dan alveoli meningkat. Payudara menjadi bengkak dan edematus. Selain itu jika bendungan ASI tidak segera tertangani akan mengakibatkan terjadinya tingkat keparahan yang berlanjut seperti mastitis hingga abses payudara (Bahiyatun, 2009).
Penangggulangan bendungan ASI ini dapat dilakukan dengan menyarankan ibu untuk menyusui secara on demand yaitu menyusui tidak terjadwal agar payudara yang bengkak dan penuh sedikit berkurang ketegangan payudaranya selain itu juga memperlancar aliran ASI dengan  cara diberikan secara   bergantian, menganjurkan ibu untuk mengeluarkan ASInya secara manual pada saat terasa penuh dengan cara diperas dengan tangan sebelum menyusui, mengajarkan untuk melakukan perawatan payudara (masase), melakukan kompres dingin yang fungsinya untuk mengurangi statis pembuluh darah dan rasa nyeri. Setelah dan sebelum menyusui dilakukan pengolesan ASI pada puting agar puting tidak lecet. Selain itu, juga diperlukan suatu wadah tempat ibu berkonsultasi, antara lain klinik laktasi, kelompok pendukung ASI, praktik dokter atau bidan, dan sebagainya. Konsultasi melalui teleponpun sangat berguna, terutama bagi ibu yang baru pertama kali menyusui (Bahiyatun, 2009).
Berdasarkan Data yang diperoleh dari Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI), cakupan pemberian ASI eksklusif pada bayi 0-5 bulan di Indonesia pada tahun 2008 yaitu sebanyak 56,2 % menurun bila dibandingkan percapaian cakupan pada tahun 2007 yaitu 62,2%, namun meningkat lagi pada tahun 2009 menjadi 61,3%. Sedangkan cakupan pemberian ASI eksklusif pada bayi sampai 6 bulan turun dari 28,6% pada tahun 2007 menjadi 24,3% pada tahun 2008 dan naik menjadi 34,4% pada tahun 2009 (Profil Jurnal Kesehatan Indonesia, 2009).
Berdasarkan data cakupan pemberian ASI eksklusif yang diperoleh dari Pofil Kesehatan Kabupaten/Kota diprivinsi Jawa Tengah tahun 2009 bahwa cakupan jumlah bayi yang diberikan ASI secara eksklusif mencapai 40,21%.  Data dari  Dinas Kesehatan Kabupaten Demak pada tahun 2011 rata-rata cakupan pemberian ASI sebanyak 42,68% dari jumlah bayi 6.349, cakupan ini masih dibawah target yang diharapkan yaitu 67% (Dinas Kesehatan Kabupaten Demak, 2011).
Data periode pada bulan November 2010 – Oktober 2011 yang diperoleh dari BPM Sudarti, S.SiT didapatkan jumlah keseluruhan ibu nifas fisiologis sebanyak 136 orang dan 30 orang (22,06%) mengalami bendungan ASI sedangkan 106 orang (77,94%) tidak mengalami bendungan ASI.
Berdasarkan uraian tersebut, penulis tertarik mengambil kasus nifas dengan bendungan ASI sebagai KTI dengan judul “Asuhan Kebidanan Pada Ny. U hari ke-4 post partum fisiologis dengan bendungan ASI di BPM Ny. Sudarti, S.SiT Desa Banjarsari Kec. Sayung Kab. Demak”.
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis merumuskan masalah “Bagaimana Asuhan Kebidanan Ibu Nifas Normal pada Ny. U hari ke-4 Dengan Bendungan ASI Di BPM Ny. Sudarti, S.Sit Desa Banjarsari, Kec. Sayung, Kab. Demak “.


C.     Tujuan Penulisan
Adapun tujuan karya ilmiah yang ingin dicapai meliputi:
1.   Tujuan Umum
Diharapkan penulis dapat melaksanakan Asuhan Kebidanan Pada ibu nifas normal dengan bendungan ASI dengan pelaksanaan manajemen kebidanan menurut helen varney.
2.   Tujuan Khusus
Dalam penulisan karya tulis ilmiah ini diharapkan penulis mampu :
a.      Melaksanakan pengkajian ibu nifas normal khususnya pada Ny. U hari ke-4 dengan Bendungan ASI secara lengkap, tepat dan sistematis.
b.      Menginterpretasi data dan masalah pada kasus Ny. U dengan Bendungan ASI.
c.      Merumuskan diagnosa potensial yang terjadi pada ibu nifas khususnya pada Ny. U dengan Bendungan ASI berdasarkan masalah atau diagnosa yang sudah diidentifikasikan.
d.      Mengidentifikasi tindakan antisipasi terhadap diagnosa potensial asuhan kebidanan pada ibu nifas khususnya pada Ny. U dengan Bendungan ASI baik secara langsung maupun kolaborasi sesuai dengan kondisi umum.
e.      Menyusun rencana tindakan asuhan kebidanan pada ibu nifas khususnya pada Ny. U dengan Bendungan ASI sesuai dengan masalah dan kebutuhan yang terjadi sehingga dapat teratasi secara umum.
f.       Melaksanakan rencana tindakan asuhan kebidanan pada ibu nifas khususnya pada Ny. U dengan Bendungan ASI sesuai dengan kebutuhan dan masalah.
g.      Mengevaluasi keefektifan asuhan kebidanan pada ibu nifas khususnya pada Ny. U dengan Bendungan ASI.


D.     Ruang Lingkup
1.   Sasaran
Asuhan Kebidanan ibu nifas normal dilakukan pada Ny. U hari ke-4 dengan bendungan ASI.
2.   Tempat
Asuhan Kebidanan ibu nifas normal pada Ny. U hari ke-4 dengan bendungan ASI dilaksanakan di rumah pasien dukuh Dombo Rt. 08 Rw. 05 Desa Banjarsari Kec. Sayung Kab. Demak.
3.   Waktu
Asuhan Kebidanan ibu nifas normal dilakukan pada Ny. U dengan bendungan ASI melalui perawatan sesuai dengan kebijakan, kunjungan rumah, dan kotrol ulang selama 4 hari dalam 3 kali pengkajian mulai  tanggal 20-23 Oktober 2011.


E.     Manfaat Penulisan
1.   Bagi Instansi Pendidikan
a.      Diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan untuk mengetahui kemampuan mahasiswa dalam penerapan asuhan kebidanan ibu nifas dengan bendungan ASI dan cara penanganannya.
b.      Diharapkan dapat melengkapi referensi yang telah ada.
c.      Dapat digunakan sebagai salah satu bahan koreksi terhadap pembelajaran mata kuliah asuhan pada ibu nifas dengan bendungan ASI.
2.   Bagi pelayan kesehatan
Sebagai bahan masukan dan menambah wawasan untuk lebih meningkatkan mutu pelayanan pada ibu nifas.
3.   Bagi penulis
a.      Dapat digunakan penulis perbandingan antara teori yang didapat dengan praktek langsung dilapangan.
b.      Dapat menambah wawasan.
c.      Dapat menerapkan asuhan pada ibu nifas dengan bendungan ASI.
d.      Dapat mengaplikasikan manajemen kebidanan varney yang lebih tepat pada pasien nifas dengan bendungan ASI.
4.   Bagi ibu nifas khususnya Ny. U
a.      Dapat menambah wawasan dan pengetahuan tentang nifas dan perawatan bayi.
b.      Meningkatkan pemahaman ibu terhadap kasus ibu nifas dengan bendungan ASI.


F.     Metode dan Tehnik Penulisan
Adapun tehnik penyusunan yang digunakan meliputi :
1.   Wawancara
Wawancara adalah suatu metode pengumpulan data dengan cara mewawancarai langsung responden yang diteliti, metode ini memberikan hasil secara langsung (Alimul, Hidayat, 2007).
2.   Observasi
Metode yang digunakan untuk memeroleh dara dari hasil pengamatan panca indra dan melakukan tindakan aktif klien, selama dalam masa perawatan masa nifas (Alimul, Hidayat, 2007).
3.   Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik dilakukan dengan memakai instrumen atau alat pengukur. Tujuannya untuk memastikan batas dimensi angka, irama, kuantitas. Data ditulis setelah melaksanakan pemeriksaan fisik yang meliputi keadaan normal maupun abnormal, dengan melakukan pemeriksaan fisik, antara lain :
a.      Inspeksi (pemeriksaan pandang)
Merupakan proses observasi dengan menggunakan periksa pandang pada payudaraa untuk menegakkan diagnosa.
b.      Palpasi (periksa raba)
Periksaan fisik secara palpasi adalah dengan menggunakan sentuhan atau perabaan pada payudara untuk mengatasi bendungan ASI.
4.   Dokumentasi
Merupakan metode pengumpulan data dengan cara mengambil data yang berasal dari dokumen asli. Dokumen asli tersebut dapat berupa gambar, tabel atau daftar periksa, dan film dokumenter (Alimul, Hidayat, 2007).
5.   Studi Kasus
Studi kasus adalah kegiatan penelitian yang dilakukan oleh penulisan dalam rangka mencari landasan teoritis dari permasalahan penelitian (Alimul, Hidayat, 2007).


G.    Sistematika Penulisan
Susunan Laporan Pengelolaan Kasus dengan Judul “Asuhan Kebidanan Ibu Nifas Normal Pada Ny. U Hari ke 4 Dengan Bendungan ASI Di BPM Ny. Sudarti,  S.Sit Desa Banjarsari Kec. Sayung Kab. Demak ”.
Manggunakan sistematika sebagai berikut :
1.   BAB I PENDAHULUAN
Menguraikan tentang latar belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan, ruang lingkup, manfaat penulisan, metode penulisan dan sistematika penulisan.

2.   BAB II TINJAUAN TEORI
Bab ini menguraikan tentang teori medis nifas fisiologis, fisiologi laktasi, bendungan ASI, manajemen kebidanan, penerapan manajemen kebidanan yang berisi 7 langkah varney dalam masa nifas fisiologis dengan bendungan ASI. Bidan sebagai tenaga kesehatan dalam mengatasi nifas dengan bendungan ASI mempunyai wewenang yang diatur dalam PERMENKES RI No. 1464/MENKES/PER/2010 tentang izin dan penyelenggaraan praktik bidan, Kepmenkes Nomor 369/MENKES/III/2007 tentang standar profesi bidan, dan standar pelayanan kebidanan. 
3.   BAB III TINJAUAN KASUS
Menerangkan tentang pengkajian (data subyektif dan data obyektif), interpretasi data, diagnosa potensial, antisipasi, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi serta catatan perkembangan.
4.   BAB IV BAHASAN
Untuk mengamati dan memberikan solusi dengan alasan-alasan ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan serta untuk mengetahui kesenjangan antara pandangan teoritik dan kenyataan lapangan.
5.   BAB V PENUTUP
a.   Simpulan
Merupakan intisari dari pembahasan berdasarkan tujuan.
b.   Saran
Usulan yang sifatnya lebih operasional atau aplikatif.
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar